NAMA            : Sri Zilla Arsyilah

NRP                : I14100135

LASKAR 12

Cerita Inspirasi II (berkenaan dengan diri sendiri)

Setahun yang lalu saya melihat nenek akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah bertahun-tahun bergelut dengan penyakit keras, hampir setiap tahun beliau masuk rumah sakit. Rasanya sangat tidak berguna saat melihat orang yang disayangi meringis kesakitan tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghilangkan rasa sakitnya. Jangankan menghilangkan, menguranginya sedikit saja pun saya tidak mampu. Berdoa, hanya itu. Karena perasaan itulah saya akhirnya bertekad untuk melanjutkan studi ke kedokteran. Prestasi akademik pun saya peroleh karena obsesi pada satu profesi itu.

Namun, Tuhan tidak mengkhendaki keinginan saya. Saya bersiap ikut jalur pmdk untuk masuk fakultas kedokteran di sebuah PTN namun orangtua saya merasa tidak mampu untuk menunjang biaya pendidikan selanjutnya, saya cukup tahu diri dan berusaha realistis. Saya sempat berkecil hati dan tidak tahu akan diteruskan kemana pendidikan saya, terpikir untuk tidak kuliah agar uangnya dapat ditabung untuk pendidikan masa depan adik-adik saya namun orangtua saya tidak setuju, mereka merasa saya terlalu putus asa.

Menuruti keinginan orangtua saya, akhirnya saya mendaftar pada satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta,melenceng dari kedokteran saya mengambil jurusan tehnik industri pikir saya agar saya bisa sambil berwirausaha, melalui jalur pmdk saya memperoleh banyak keringanan biaya pendidikan disana. Orangtua saya mendukung penuh dan menyatakan mampu menanggung biayanya, namun perasaan saya masih berat, bagaimanapun juga biaya kuliah itu tidak murah, apalagi perguruan swasta.

Saya bertanya pada Tuhan apakah memang ini jalan-Nya untuk saya, rasanya masih ada yang mengganjal dalam hati saya. Lalu bersama teman baik saya, saya mendaftar SNMPTN online, saat memasukkan pilihan jurusan fokus saya hanya pada satu jurusan ‘ilmu gizi’, entah mengapa. Mungkin saja karena tidak terlalu jauh melenceng dari tujuan awal saya, lagipula kalau dapat perguruan negeri tentunya bisa lebih meringankan orangtua saya. Hanya sampai disitu pemikiran saya.

Usai mengerjakan soal-soal SNMPTN tersebut saya lalu melaksanakan  solat hajat, saya meminta petunjuk apa yang baik bagi saya dan dimana saya seharusnya berada, saya meminta untuk tidak diluluskan dalam tes tersebut bila itu bukan jalan-Nya untuk saya. Orangtua saya yang sebelumnya tidak mengizinkan saya berkuliah di luar kota pun akhirnya mengikhlaskan apapun jawaban Allah nantinya

Saat tiba pengumuman, saya menunda-nunda untuk membukanya karena rasanya saya sama sekali tidak berharap. Subhanallah, ternyata saya mendapatkan hasil yang bahkan saya tidak harapkan. Saya sudah terlanjur menata mimpi baru saya di bidang yang baru saya pilih, ‘industri’. Saya menangis melihat jawaban yang Allah beri, Allah memilihkan IPB untuk saya, pilihan yang tak pernah ada di benak saya walau dalam mimpi sekalipun. Saya melihat Ibu saya menitikkan air mata haru. Ini mungkin buah dari keikhlasan beliau juga.

Rasanya sangat ingin menolak, tetapi ini pilihan yang saya mulai sendiri, dan ternyata Tuhanku pun mengamininya. Dengan rasa tidak percaya saya mengundurkan diri dari perguruan tinggi swasta yang telah menerima saya dan kemudian mengurus registrasi di IPB.

Saya mengambil hikmah dari apa yang saya alami sendiri, beginilah cara Allah menyayangiku. Kita memohon Kekuatan dan Allah SWT memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar. Kita memohon kebijakan dan Allah SWT memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.
Kita memohon kemakmuran dan Allah SWT memberi kita otak dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran. Kita memohon keteguhan hati dan Allah SWT memberi bencana dan bahaya untuk diatasi. Kita memohon cinta dan Allah SWT memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.
Kita memohon kemurahan kebaikan hati dan Allah SWT memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti, Maha Suci Allah.

Semoga apa yang saya jalani saat ini adalah jalan yang dipilihkan Allah untuk saya, dengan segala kekurangan yang saya miliki semoga Allah menutupi dengan kebesaran-Nya. Semoga kita semua memperoleh segala kebaikan dunia dan akhirat J

NAMA            : Sri Zilla Arsyilah

NRP                : I14100135

LASKAR 12

Cerita Inspirasi I (berkenaan dengan orang lain)

Ketika membaca tugas membuat cerita inspirasi tokoh, saya terpikir untuk memilih sosok wanita yang saya gambarkan dalam cerita di bawah ini. Saya mengagumi beliau bukan hanya sebagai tokoh Negara, tetapi juga seorang istri dan seorang ibu yang sangat bermartabat, seorang wanita dengan segudang prestasi dan bakti. Ibu saya juga memiliki pandangan yang sama dengan saya, beliau mendukung saya memilih sosok wanita ini karena beliau juga sangat mengaguminya. Berikut adalah sedikit kisahnya yang menginspirasi saya.

Di tengah gemuruh kekacauan Negara, Ainun mampu menempatkan diri sebagai Ibu Bangsa yang melayani dan mendukung suami, sekaligus menjadi “Ibu” untuk 200 juga rakyat Indonesia. Hasri Ainun Besari atau lebih popular dengan Ainun Habibie yang terlahir di Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal 11 Agustus 1937 ini merupakan inspirator bagi banyak wanita Indonesia.

Ainun menyelesaikan pendidikan SD, SLTP, dan SLTA di kota Bandung. Kota dimana beliau bertemu dengan pria yang menjadi pasangan hidupnya, B.J. Habibie. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan bekerja selama satu tahun di bidang perawatan anak (RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta) , Ainun kemudian menikah dan ikut suaminya menetap di Jerman.

Bukan hal yang mudah memulai hidup baru di tempat yang sangat jauh dari keluarga, bahkan di benua yang berbeda. Ainun menjalaninya dengan segala kesederhanaan dan kerja keras, jerih payahnya bersama sang suami membuahkan kesuksesan. Beliau berhasil membimbing kedua putranya, Ilham Habibie (sarjana ilmu aeronautik, Muenchen, meraih gelar PhD predikat summa cumlaude) dan Thareq Kemal (Diploma Inggeneu Braunsweig) menjadi pria sukses yang tetap rendah hati.

Pada saat Habibie menjadi Wakil Presiden RI, Ainun adalah seorang yang dengan tulus ikhlas membantu suaminya mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Dalam buku karangan Habibie “Detik-detik Yang Menentukan” tergambar dengan sangat baik bagaimana beliau mendampingi Habibie dalam kondisi yang sangat gawat dan krusial. Ainun lah yang menjadikan Habibie tenang dan matang dalam mengambil keputusan

Ainun memiliki kepedulian yang besar dalam kegiatan sosial. Beliau mendirikan dan terlibat dalam beberapa yayasan, seperti Bank Mata untuk penyantun mata tunanetra. Beliau bahkan masih menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) pada saat Habibie tidak lagi menjadi Pejabat. Dalam usaha memperkenalkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat Indonesia, Ainun pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pendiri Yayasan SDM Iptek, Selain itu, beliau mendirikan Yayasan Beasiswa Orbit (Yayasan amal abadi-orang tua bimbingan terpadu) dengan cabang di seluruh Indonesia. Ainun juga memprakarsai penerbitan majalah teknologi anak-anak Orbit. Khusus untuk Aceh, semasa Aceh dalam gejolak pada tahun 2000-an, Ainun mengadakan beasiswa ORBIT khusus untuk siswa Aceh.

Beliau  juga mencatat segudang prestasi besar selama hidupnya. Atas sumbangsihnya tersebut, Ainun mendapatkan beberapa penghargaan tertinggi bintang mahaputra. Penghargaan tersebut diberikan oleh pemerintah sebagai penghargaan kepada warga yang dianggap memiliki peran besar terhadap negara. Antara lain, Ainun mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra Adipurna, juga Mahaputera Utama pada 12 Agustus 1982 serta Bintang Mahaputra Adipradana pada 6 Agustus 1998.

Didorong oleh perhatian yang sangat besar bagi para tunenetra di Indonesia, Ainun memiliki harapan agar pemerintah memberikan keleluasaan dan aturan yang menganjurkan untuk dilaksanakan donor mata. Ainun mengharapkan adanya fatwa yang bukan hanya membolehkan donor mata tetapi menganjurkan dilakukannya donor mata. Karena menurut beliau ketentuan untuk donor mata di Indonesia penuh dengan syarat tertentu, beliau ingin donor mata bukan dibolehkan dengan syarat-syarat tetapi dianjurkan dengan prosedur tertentu. Ini jelas menunjukkan bagaimana ia berdedikasi pada persoalan yang dihadapi orang cacat dan berharap kita semua bisa membantunya.

Dalam perihal religious, Ainun memang bukan ahli agama. Tetapi ia sangat konsisten dengan agama yang dianutnya. Ainun adalah orang yang melewatkan malam-malamnya dengan shalat tahajut dan mengaji al-Qur’an. Ia telah menamatkan al-Qur’an puluhan kali. Bahkan dari satu sumber dikatakan Ainun menamatkan al-Qur’an dua kali dalam satu bulan. Sebuah prestasi yang tidak semua orang Islam dapat melakukannya. Apalagi ditengah kesibukan dan kepadatan jadwal kegiatannya sebagai istri petinggi negara.

Kehidupan religius Ainun jelas tergambar dalam “Detik-detik yang menentukan”, karya Habibie. Beberapa kali Habibie menulis mengenai istrinya, saat Ainun sedang di atas sajadah. “Ainun yang sedang membaca al-Qur’an” atau “Ainun yang baru saja selesai melaksanakan shalat malam” dan lain sebagainya. Di rumah mereka di Jakarta pada saat Habibie masih menjadi menristek, lalu wakil presiden, sampai menjadi presiden, dilaksanakan pengajian rutin yang diikuti warga sekitar dan istri-istri pejabat Negara.

Ibu Ainun Habibie, sungguh sangat menginspirasi, sosok yang nyaris sempurna. Anak negeri berprestasi, Ibu cerdas yang merawat dan mendidik sendiri anak-anaknya, Wanita tangguh yang terpelajar, serta Istri terampil yang penuh cinta, gambaran indah sosoknya yang sangat dicintai.

Sabtu, 22 Mei 2010, Ainun wafat dalam usia 72 tahun, setelah 45 tahun hidup bersama Habibie. Sebelum wafat, Ainun sempat beberapa kali mengalami kritis, dan selama 3 bulan terakhir Habibie tak pernah beranjak dari istri yang sangaat dicintainya. Dalam sebuah sambutan yang diberikan Habibie setelah upacara pemakaman istrinya ia mengungkapkan rasa cinta itu dengan sebuah kalimat : “12 Mei 1962 kami dinikahkan. Bibit cinta abadi dititipkan di hati kamu dan hati saya, pemiliknya Allah. Cinta yang abadi dan sempurna. Kamu dan saya, sepanjang masa. Nikmatnya dipatri dalam segala-galanya, satu batin dan perasaannya.” Ungkapan ini bukan hanya pemanis bibir. Habibie telah menunjukkan dalam laku dan perbuatannya. Ia mencurahkan seluruh cinta dan hatinya pada sang istri, Ainun Haibie, sampai ia menutup mata.

“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya”

(B.J. Habibie)

Semoga segala amalan baik dan bakti almarhumah untuk menolong sesama dapat menginspirasi kita.

Setahun yang lalu saya melihat nenek akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah bertahun-tahun bergelut dengan penyakit keras, hampir setiap tahun beliau masuk rumah sakit. Rasanya sangat tidak berguna saat melihat orang yang disayangi meringis kesakitan tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghilangkan rasa sakitnya. Jangankan menghilangkan, menguranginya sedikit saja pun saya tidak mampu. Berdoa, hanya itu. Karena perasaan itulah saya akhirnya bertekad untuk melanjutkan studi ke kedokteran. Prestasi akademik pun saya peroleh karena obsesi pada satu profesi itu.

Namun, Tuhan tidak mengkhendaki keinginan saya. Saya bersiap ikut jalur pmdk untuk masuk fakultas kedokteran di sebuah PTN namun orangtua saya merasa tidak mampu untuk menunjang biaya pendidikan selanjutnya, saya cukup tahu diri dan berusaha realistis. Saya sempat berkecil hati dan tidak tahu akan diteruskan kemana pendidikan saya, terpikir untuk tidak kuliah agar uangnya dapat ditabung untuk pendidikan masa depan adik-adik saya namun orangtua saya tidak setuju, mereka merasa saya terlalu putus asa.

Menuruti keinginan orangtua saya, akhirnya saya mendaftar pada satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta,melenceng dari kedokteran saya mengambil jurusan tehnik industri pikir saya agar saya bisa sambil berwirausaha, melalui jalur pmdk saya memperoleh banyak keringanan biaya pendidikan disana. Orangtua saya mendukung penuh dan menyatakan mampu menanggung biayanya, namun perasaan saya masih berat, bagaimanapun juga biaya kuliah itu tidak murah, apalagi perguruan swasta.

Saya bertanya pada Tuhan apakah memang ini jalan-Nya untuk saya, rasanya masih ada yang mengganjal dalam hati saya. Lalu bersama teman baik saya, saya mendaftar SNMPTN online, saat memasukkan pilihan jurusan fokus saya hanya pada satu jurusan ‘ilmu gizi’, entah mengapa. Mungkin saja karena tidak terlalu jauh melenceng dari tujuan awal saya, lagipula kalau dapat perguruan negeri tentunya bisa lebih meringankan orangtua saya. Hanya sampai disitu pemikiran saya.

Usai mengerjakan soal-soal SNMPTN tersebut saya lalu melaksanakan  solat hajat, saya meminta petunjuk apa yang baik bagi saya dan dimana saya seharusnya berada, saya meminta untuk tidak diluluskan dalam tes tersebut bila itu bukan jalan-Nya untuk saya. Orangtua saya yang sebelumnya tidak mengizinkan saya berkuliah di luar kota pun akhirnya mengikhlaskan apapun jawaban Allah nantinya

Saat tiba pengumuman, saya menunda-nunda untuk membukanya karena rasanya saya sama sekali tidak berharap. Subhanallah, ternyata saya mendapatkan hasil yang bahkan saya tidak harapkan. Saya sudah terlanjur menata mimpi baru saya di bidang yang baru saya pilih, ‘industri’. Saya menangis melihat jawaban yang Allah beri, Allah memilihkan IPB untuk saya, pilihan yang tak pernah ada di benak saya walau dalam mimpi sekalipun. Saya melihat Ibu saya menitikkan air mata haru. Ini mungkin buah dari keikhlasan beliau juga.

Rasanya sangat ingin menolak, tetapi ini pilihan yang saya mulai sendiri, dan ternyata Tuhanku pun mengamininya. Dengan rasa tidak percaya saya mengundurkan diri dari perguruan tinggi swasta yang telah menerima saya dan kemudian mengurus registrasi di IPB.

Saya mengambil hikmah dari apa yang saya alami sendiri, beginilah cara Allah menyayangiku. Kita memohon Kekuatan dan Allah SWT memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar. Kita memohon kebijakan dan Allah SWT memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.
Kita memohon kemakmuran dan Allah SWT memberi kita otak dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran. Kita memohon keteguhan hati dan Allah SWT memberi bencana dan bahaya untuk diatasi. Kita memohon cinta dan Allah SWT memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.
Kita memohon kemurahan kebaikan hati dan Allah SWT memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti, Maha Suci Allah.

Semoga apa yang saya jalani saat ini adalah jalan yang dipilihkan Allah untuk saya, dengan segala kekurangan yang saya miliki semoga Allah menutupi dengan kebesaran-Nya. Semoga kita semua memperoleh segala kebaikan dunia dan akhirat J

Ketika membaca tugas membuat cerita inspirasi tokoh, saya terpikir untuk memilih sosok wanita yang saya gambarkan dalam cerita di bawah ini. Saya mengagumi beliau bukan hanya sebagai tokoh Negara, tetapi juga seorang istri dan seorang ibu yang sangat bermartabat, seorang wanita dengan segudang prestasi dan bakti. Ibu saya juga memiliki pandangan yang sama dengan saya, beliau mendukung saya memilih sosok wanita ini karena beliau juga sangat mengaguminya. Berikut adalah sedikit kisahnya yang menginspirasi saya.

Di tengah gemuruh kekacauan Negara, Ainun mampu menempatkan diri sebagai Ibu Bangsa yang melayani dan mendukung suami, sekaligus menjadi “Ibu” untuk 200 juga rakyat Indonesia. Hasri Ainun Besari atau lebih popular dengan Ainun Habibie yang terlahir di Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal 11 Agustus 1937 ini merupakan inspirator bagi banyak wanita Indonesia.

Ainun menyelesaikan pendidikan SD, SLTP, dan SLTA di kota Bandung. Kota dimana beliau bertemu dengan pria yang menjadi pasangan hidupnya, B.J. Habibie. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan bekerja selama satu tahun di bidang perawatan anak (RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta) , Ainun kemudian menikah dan ikut suaminya menetap di Jerman.

Bukan hal yang mudah memulai hidup baru di tempat yang sangat jauh dari keluarga, bahkan di benua yang berbeda. Ainun menjalaninya dengan segala kesederhanaan dan kerja keras, jerih payahnya bersama sang suami membuahkan kesuksesan. Beliau berhasil membimbing kedua putranya, Ilham Habibie (sarjana ilmu aeronautik, Muenchen, meraih gelar PhD predikat summa cumlaude) dan Thareq Kemal (Diploma Inggeneu Braunsweig) menjadi pria sukses yang tetap rendah hati.

Pada saat Habibie menjadi Wakil Presiden RI, Ainun adalah seorang yang dengan tulus ikhlas membantu suaminya mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Dalam buku karangan Habibie “Detik-detik Yang Menentukan” tergambar dengan sangat baik bagaimana beliau mendampingi Habibie dalam kondisi yang sangat gawat dan krusial. Ainun lah yang menjadikan Habibie tenang dan matang dalam mengambil keputusan

Ainun memiliki kepedulian yang besar dalam kegiatan sosial. Beliau mendirikan dan terlibat dalam beberapa yayasan, seperti Bank Mata untuk penyantun mata tunanetra. Beliau bahkan masih menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) pada saat Habibie tidak lagi menjadi Pejabat. Dalam usaha memperkenalkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat Indonesia, Ainun pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pendiri Yayasan SDM Iptek, Selain itu, beliau mendirikan Yayasan Beasiswa Orbit (Yayasan amal abadi-orang tua bimbingan terpadu) dengan cabang di seluruh Indonesia. Ainun juga memprakarsai penerbitan majalah teknologi anak-anak Orbit. Khusus untuk Aceh, semasa Aceh dalam gejolak pada tahun 2000-an, Ainun mengadakan beasiswa ORBIT khusus untuk siswa Aceh.

Beliau  juga mencatat segudang prestasi besar selama hidupnya. Atas sumbangsihnya tersebut, Ainun mendapatkan beberapa penghargaan tertinggi bintang mahaputra. Penghargaan tersebut diberikan oleh pemerintah sebagai penghargaan kepada warga yang dianggap memiliki peran besar terhadap negara. Antara lain, Ainun mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra Adipurna, juga Mahaputera Utama pada 12 Agustus 1982 serta Bintang Mahaputra Adipradana pada 6 Agustus 1998.

Didorong oleh perhatian yang sangat besar bagi para tunenetra di Indonesia, Ainun memiliki harapan agar pemerintah memberikan keleluasaan dan aturan yang menganjurkan untuk dilaksanakan donor mata. Ainun mengharapkan adanya fatwa yang bukan hanya membolehkan donor mata tetapi menganjurkan dilakukannya donor mata. Karena menurut beliau ketentuan untuk donor mata di Indonesia penuh dengan syarat tertentu, beliau ingin donor mata bukan dibolehkan dengan syarat-syarat tetapi dianjurkan dengan prosedur tertentu. Ini jelas menunjukkan bagaimana ia berdedikasi pada persoalan yang dihadapi orang cacat dan berharap kita semua bisa membantunya.

Dalam perihal religious, Ainun memang bukan ahli agama. Tetapi ia sangat konsisten dengan agama yang dianutnya. Ainun adalah orang yang melewatkan malam-malamnya dengan shalat tahajut dan mengaji al-Qur’an. Ia telah menamatkan al-Qur’an puluhan kali. Bahkan dari satu sumber dikatakan Ainun menamatkan al-Qur’an dua kali dalam satu bulan. Sebuah prestasi yang tidak semua orang Islam dapat melakukannya. Apalagi ditengah kesibukan dan kepadatan jadwal kegiatannya sebagai istri petinggi negara.

Kehidupan religius Ainun jelas tergambar dalam “Detik-detik yang menentukan”, karya Habibie. Beberapa kali Habibie menulis mengenai istrinya, saat Ainun sedang di atas sajadah. “Ainun yang sedang membaca al-Qur’an” atau “Ainun yang baru saja selesai melaksanakan shalat malam” dan lain sebagainya. Di rumah mereka di Jakarta pada saat Habibie masih menjadi menristek, lalu wakil presiden, sampai menjadi presiden, dilaksanakan pengajian rutin yang diikuti warga sekitar dan istri-istri pejabat Negara.

Ibu Ainun Habibie, sungguh sangat menginspirasi, sosok yang nyaris sempurna. Anak negeri berprestasi, Ibu cerdas yang merawat dan mendidik sendiri anak-anaknya, Wanita tangguh yang terpelajar, serta Istri terampil yang penuh cinta, gambaran indah sosoknya yang sangat dicintai.

Sabtu, 22 Mei 2010, Ainun wafat dalam usia 72 tahun, setelah 45 tahun hidup bersama Habibie. Sebelum wafat, Ainun sempat beberapa kali mengalami kritis, dan selama 3 bulan terakhir Habibie tak pernah beranjak dari istri yang sangaat dicintainya. Dalam sebuah sambutan yang diberikan Habibie setelah upacara pemakaman istrinya ia mengungkapkan rasa cinta itu dengan sebuah kalimat : “12 Mei 1962 kami dinikahkan. Bibit cinta abadi dititipkan di hati kamu dan hati saya, pemiliknya Allah. Cinta yang abadi dan sempurna. Kamu dan saya, sepanjang masa. Nikmatnya dipatri dalam segala-galanya, satu batin dan perasaannya.” Ungkapan ini bukan hanya pemanis bibir. Habibie telah menunjukkan dalam laku dan perbuatannya. Ia mencurahkan seluruh cinta dan hatinya pada sang istri, Ainun Haibie, sampai ia menutup mata.

“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya”

(B.J. Habibie)

Semoga segala amalan baik dan bakti almarhumah untuk menolong sesama dapat menginspirasi kita.